Jumat, 08 Juni 2012

FILSAFAT JAWA


Percikan perenungan filsafat jawa
Hidup berselaras. Oleh soenarto timoer

Manawi kula ajrih, rak kirang mantep kulo dhateng gusti kula. Payung kula gusti kula, tameng kula inggih Gusti kula.
Namung kula mboten kenging nilar pathokan waton kula piyambak utawi supe dhateng maksud lan ancasipun agesang, inggih punika ‘nhawula dhateng kawulaning Gusti, lan memayu ayuning urip.
Ingkang tansah dados ancasipun lampah kulo boten sanes namung sunyi pamrih, puji kula boten sanes namung sugih, sugeng, senenging sasami. Prabot kula boten sanes badan lan budi.
Lampah kula tansah anglampahi dados kawulaning sasami, tansah anglampahi dados muriding agesang, wajib tiyang gesang sinau anglaras batos saha raos. (Drs. R.MP. Sosrokartono)

KATA KUNCI ajaran Sosrokartanan  di atas jelas sekali menunnjukkan betapa pentingnya faktor aku dalam hubungannya dengan TUHAN DAN ALAM SEMESTA(sagung dumadi,sagung tumitah urip).lalu penulis menggubabh sebuah seloka dengan menggunakan carakan jawa sebagai “titian keledai” (ezel bruggetje’) yang isinya sebagai berikut:
(ha-na-ca-ra-ka) : hananing cipta rasa karsa
(da-ta-sa-wa-la) : datan salah wahyaning lampah
(pa-dha-ja-ya-nya) : padhang jagade yen nyurupana
(ma-ga-ba-tha-nga) : marang gambaraning bhatara ngaton

bahwa manusia hidup di dunia berpusat kepada aku. “Aku adalah aku. Tak mungkin diluar aku. Diluar aku  adalah kau. Kau bukan aku atau kehidupan semesta. Kehidupan semesta dengan segala isi dan fenomenanya tercetak menurut pola yang ada pada-KU. Mengapa demikian? Sebab si aku menyadari sesadar-sadarnya telah menerima anugerah tuhan berupa cipta-rasa-karsa. Karena aku ketempatan cipta-rasa-karsa atas kehendak tuhan, maka aku merasa terpanggil untuk ber-mandhi-reng-pribadi.”

Tetapi kehidupan semesta meruapakan “kesatuan utuh” (een homogen geheel), terdiri atas berjuta-juta aku lainnya yang menghuni permukaan bumi kita, satu dengan yang lain berbeda, dan tak satupun sama dengan aku yang ada pada diriku. Namun sekian banyak aku itu seorang demi seorang pun merupakan pusat kehidupan semesta bagi diri masing2, yang sama-samamemiliki kewenangan ber-mandhi-reng-pribadi seperti hal-ku. Jadi dengan demikian tiap-tiap tempat tertentu mempunyai titik-pusatnya” terhadap kehidupan semesta yang satu itu. Karena tak terbilang jumlahnya, maka tiap2 titik-pusatnya itu niscaya tidak tanpa batas. kesimpulannya ialah bahwa kata “madhireng pribadi” bukan berarti ‘mau hidup sendiri’, melainkan hanya ‘mampu mengatur hidup masing-masing selaras dengan masyarakat serta alam lingkungannya”.