Sabtu, 26 Mei 2012

CINTA DAN WAKTU



CINTA DAN WAKTU


Alkisah di pulau terpencil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak; ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. 
Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan karena ia tak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai, mencoba mencari pertolongan. Sementara itu, air semakin naik membasahi kaki Cinta.

Tak lama kemudian, Cinta melihat kekayaan sedang mengayuh perahu.
“kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” Teriak Cinta.
“Aduh! Maaf, Cinta!”kata kekayaan, “Perahuku telah penuh dengan harta bendaku, aku tak dapat membawamu serta. Nanti perahu ini tenggelam, lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini”. Lalu, Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. 

Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya.
“Kegembiraan! Tolong aku!”teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu, sehingga ia tak mendengar teriakan cinta.

Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik. Tak lama lewatlah Kecantikan.
“kecantikan, bawalah aku bersamamu!”teriak Cinta.
“Wah! Cinta, kamu basah dan kotor! Aku tak bias membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini!”sahut kecantikan. Cinta sedih sekali mendengarnya, ia menangis terisak-isak.

Saat itu, lewatlah Kesedihan.
“Oh, Kesedihan! Bawalah aku bersamamu!”Kata Cinta.
“Maaf, Cinta! Aku sedang sedih, dan aku ingin sendirian saja…”kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.

Cinta putus asa, ia merasakan air makin naik, dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, “Cinta! Mari, cepat naik ke perahuku!”Cinta menoleh ke a rah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta, dan segera pergi lagi. Pada saat itu, barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu.

Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, “Siapa sebenarnya orang tua itu?”. 
Lalu orang di pulau itu menjawab, “Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu”.
“Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan tema-teman yang mengenalku pun enggan menolongku!?” Tanya Cinta, heran.

“Sebab, hanya Waktu lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar