ILIR-ILIR YANG FILOSOFIS
Lir-ilir, lir-ilir tandure wis sumilir
Ta ijo royo-royo, ta senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penenko blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penek’en kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane
Yo surak o…surak o horee..
Terjemahan bebasnya dalam Bahasa Indonesia :
Sayup-sayup bangun (dari tidur), lihatlah tunas sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau, seperti gairah pengantin baru
Anak-anak penggembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu,
Walaaupun licin teruskan, karena akan membersihkan bajumu
Pakaian-pakaian yang yang sudah rusak disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Selagi terang rembulannya
Selagi banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak hayo….
Lir-ilir, lir-ilir. Tembang ini diawali dengan pengulangan kata ilir-ilir, dalam bahasa jawa timur-an ilir atau nglilir (terbangun), yang artinya ajakan untuk bangun. Secara harfiah, yang diajak bangun adalah orang yang tidur. Namun dalam makna yang lebih luas, ajakan bangun di sini bermakna mengajak sadar. Sadar, sadarlah artinya, manusia dalam kesibukan sehari-hari, seringkali melupakan tentang tatanan moral yang sudah digariskan oleh Sang Maha Pencipta. Ini jelas suatu ajakan dari Sang Waliyullah untuk manusia agar selalu sadar akan dirinya. Dalam konteks dakwah Sunan Kalijaga, agar manusia sadar dari kesesatan.
Tandure wus sumilir, diartikan sebagai tunas-tunas tanaman yang sedang (sudah) tumbuh. Setelah manusia sadar akan hakikatnya sebagai makhluk ciptaan-Nya yang memang ditetapkan menjadi khalifah di muka bumi ini, maka muncullah rasa kekaguman terhadap Sang Pencipta. Rasa takjub ini akan terus bertunas, berkat pupuk kesadaran itu. Namun tunas ini agar terus hidup dan menjadi tanaman yang sehat, harus terus dirawat dengan amalan-amalan yang baik.
Ta’ ijo royo-royo, ibarat tanaman yang masih subur dalam usia tanaman yang menghijau maka makin banyak pula yang dibutuhkan dan diperhatikan dalam lingkungannya untuk tumbuh subur, jika tanaman itu dirawat dengan baik maka akan tumbuh dengan subur. Ini semacam penggambaran, bahwa kebaikan yang sudah tumbuh subur ini akan memberikan manfaat yag banyak bagi kehidupan. Demikian pula dengan manusia, kalau manusia dalam usia yang masih sangat hijau (muda/remaja) maka pengaruh lingkungan menjadi penentu dalam kelanjutan kehidupannya. Manusia yang merawat dan menjaga hatinya, maka kehidupannya akan sangat berarti dan berguna untuk diri sendiri dan lingkungannya.
Ta senggo temanten anyar, pengertian umumnya ialah bergairah seperti pengantin baru. Manusia yang sadar dan berusaha terus untuk menghidupkan benih kebaikan didalam dirinya – maka gairah hidupnya akan bertambah. Sepasang pengantin baru, memandang semua yang dilihat serba indah. Jadi, seorang manusia yang sudah mencapai tataran ‘selalu ingat kepada Yang Maha Kuasa’, maka hidupnya akan selalu bergairah – dirinya tak pernah memandang negative apapun yang terjadi. Bila sedang tertimpa keberuntungan, dia akan bersyukur, dan bila sedang dirundung kemalangan, dia akan berserah diri kepada-Nya.
Cah-angon, cah-angon penekno belimbing kuwi, kata ‘cah angon’ yang umumnya sebagai ‘anak penggembala’. Kanjeng Sunan menciptakan baris ini dengan ajakan kepada ‘anak penggembala’ yang bisa berarti menggembala dirinya sendiri untuk bertakwa, dan selalu ingat kepada Tuhannya.Dalam arti luasnya, tugas ‘cah angon’ adalah menggembalakan ternak, bisa sapi, kerbau, atau kambing. Manusia ketika dilahirkan ke dunia, dibekali dengan hawa nafsu. Ada empat hawa nafsu yang selalu melekat pada mansjdngdsngihipge4909r13 Tuhannya adalah tuan-Nya dan gembala adalah hamba-Nya. Dalam arti luasnya, tugas ‘cah angon’ adalah menggembalakan ternak, bisa sapi, kerbau, atau kambing. Manusia ketika dilahirkan ke dunia, dibekali dengan hawa nafsu. Ada empat hawa nafsu yang selalu melekat pada manusia, yaitu; Aluwamah ( nafsu yang berhubungan dengan keinginan perut, seperti makan dan miinum) Amarah(syahwat dan semangat hidup), Supiah (berhubungan dengan panca indera), danMutmainah (keinginan untuk selalu melakukan kebaikan). Keempat nafsu ini saling berkaitan dan tak bisa dimusnahkan—kecuali manusia yang dilekatinya mati. Sebagai manusia, kita harus mampu menggembalakan empat nafsu itu. Harus menyeimbangkan empat kekuatan itu. Manusia yang sudah bisa menggembalakan empat hawa nafsunya, maka dia akan merasakan karunia-Nya, juga kehadiran-Nya.
Kalimat ‘penekno belimbing kuwi’, artinya perintah agar penggembala (manusia) untuk memetik buah belimbing. Mengapa Sunan Kalijaga memilih ‘belimbing’ untuk dipetik?. Belimbing adalah buah yang memiliki lima sisi dan berwarna hijau terang. Warna hijau ini seperti diketahui belimbing diidentikkan dengan islam. Sisi lima buah belimbing menggambarkan rukun islam yang ada lima, yaitu; mengucapkan kalimat syahadat, menjalankan salat, menunaikan zakat, berpuasa ketika ramadhan, dan pergi haji bagi yang mampu. Kelima rukun islam ini harus dilaksanakan oleh setiap pribadi muslim agar dapat membentuk diri pribadi menjadi insan kamil, yaitu manusia yang sempurna, yang berarti sehebat apapun manusia atau kesadaran/pemahaman manusia tentang eksistensi Tuhan, dia tetap harus melalui tahapan syariat yang tergambar dalam rukun islam itu agar bisa selalu berada di jalan-Nya.
Lunyu-lunyu penek’en kanggo mbasuh dodotiro, maksudnya; meskipun licin, harus tetap dipanjat, demi membersihkan ‘pakaian batin’ yang kotor. Maknanya, dalam menjalani syariat-Nya, banyak sekali rintangan yang harus dilalui. Seperti manusia yang sedang berjalan, dia akan melalui jalan yang penuh debu, kerikil tajam, batu-batu, kadang melewati lembah dan tebing yang curam, juga harus melalui puncak gunung yang tinggi. Dengan sabar dan tabah memanjat jalan pendakian tinggi, maka busana batin kita (dodotiro) akan tersucikan atau tersibak dari kekotoran yang membungkusnya. Banyak manusia yang terperosok atau gagal dalam pendakian ini. Karena rintangan yang ditemui di jalan, terkadang ada sesuatu hadir dalam kehidupan yang memesona kita sehingga kita lupa untuk mencapai tujuan utama kita. Karena itu, Sunan Kalijaga menekankan agar seberat apapun rintangannya, tetap harus dipenek (berusaha naik), tetap harus dilalui dengan selalu mengingat Tuhan Yang Maha Esa. Jika melakukan kesalahan dan dosa, maka cepatlah membasuh pakaian batin (mbasuh dodotiro) kita dengan bertaubat dan memohon ampunan-Nya.
Dodotiro-dodotiro, kumitir bedah ing pinggir, dalam bahasa jawa, Dodotadalah “ageman” (pakaian). Dodot menggambarkan agama islam sebagai keyakinan utama dalam menyembah Allah. Maksudnya adalah, sebagai manusia yang beragama islam, maka agama islam itu adalah pakaian kita yang di dalamnya terdapat pelindung-pelindung atau benteng diri (aturan-aturan agama islam bagi kaum laki-laki dan perempuan, berlaku dalam kehidupan dunia dan akhirat) dari hal-hal yang dapat menyesatkan. Apabila seorang hamba lepas dari agamanya maka ibaratnya ia telah menanggalkan pakaiannya, membuka auratnya. Maka ‘dodot’ inilah yang akan membawa manusia ke dalam kesesatan-Nya yang nyata atau ke jalan lurus yang di ridhoi-Nya. Dodot menggambarkan agama islam sebagai keyakinan utama dalam menyembah Allah SWT.
Sedangkan kata kumitir bedah ing pinggir, yang berarti banyaknya sobekan-sobekan (robekan) pada bagian tepi pakaian itu. Kita sebagai manusia, seringkali mengotori ketetapan ajaran yang diperintahkan oleh Allah dalam Al-Quran dan hadist Nabi. Karena itu ‘ageman’ kita harus selalu dibersihkan. Pakaian taqwa harus selalu kita bersihkan. Namun, manusia selalu saja membuat kesalahan setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, bahkan setiap saat, maka dari itu kotoran-kotoran (kesalahan) yang kita buat akan membungkus kejernihan jiwa kita. Ini akan menjadi hambatan utama saluran komunikasi antara manusia dengan Allah Yang Besar. Maka dari itu, Sunan Kalijaga berusaha memperingatkan manusia dengan jalan dakwah mencipta tembang lir-ilir, khususnya pada lirik yang di ulang dua kali yaitu ‘dodotiro’, ‘dodotiro’.
Dondomono, jlumatono, kanggo sebo mengko sore, maknanya, setiap manusia pasti menemui mati. Maka, Kanjeng Sunan mengingatkan, kondisi batin kita harus bersih ketika kita dipanggil menghadap-Nya. Kita tak pernah tahu kapan ajal menjemput kita, dalm kubur kita akan sendiri, dingin, dan kesepian, maka dari itu ‘dodot’ kita harus segera dijahit untuk yang robek, dan segera dicuci untuk yang kotor sebelum terlamabat, maksudnya kita harus memperbaiki diri kita, memperbaiki agama kita, memperbaiki kesalahan-kesalahan kita yang menyebabkan dosa, dengan jalan bertobat, shalat, puasa, dan memohon ampunan-Nya. Kehidupan kita juga begitu, membersihkan diri dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan batin dan hati kita kotor. Batin dan hati yang kotor, selain tidak bisa melihat kebenaran, juga jauh dari rahmat-Nya. Dengan demikian, segala perbuatan yang sudah kita perbaiki tujuannya adalah sebagai bekal di akhirat kelak — kanggo sebo mengko sore. Ketika kita mati—mau tidak mau—setiap manusia akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah kita lakukan semasa hidup di dunia.
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Baris yang ini sebenarnya penekanan pada baris sebelumnya. Gambaran kondisi saat ini, ketika kita masih bernafas dan sehat untuk melakukan semua perintah Allah SWT. Selagi masih ada waktu, kita diajak bersegera untuk memperbaiki diri. Mumpung padhang rembulane, selagi cahaya bulan masih benderang. Maksudnya adalah selagi kita masih diberi nafas, selagi masih diberi kesehatan dan umur, selagi pintu-pintu tobat terbuka, dan pintu-pintu ampunan masih terbuka lebar, maka ketika masih hidup bersegeralah kembali dengan mengingat fitrah dalam diri kita. Ingatlah bahwa Allah memberi kita satu bulan suci daripada sebelas bulan lainnya. Serta menambah cahaya kehidupan pada malam hari dengan mendirikan salat tahajjud, dan berdzikir. Mumpung jembar kalangane, selagi masih luas ruang dan waktu untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik sesuai dengan syariat islam. Selagi masih ada kesempatan dan selagi mampu untuk menebus kesalahan dan dosa, bisa dibayangkan, kalau badan kita sudah tidak sehat, dan hidup di tempat yang taka man, maka sangat sulit bagi kita untuk melakukan kebaikan untuk hidup untuk hidup mulia di sisi-Nya.
Yo surak o, sorak o horeee… bila sejak awal kita sadar (menyadari kesalahan) dan melaksanakan dengan niat bersungguh-sungguh, dengan baik, selalu sabar, berserah diri pada Allah, dan bertawakkal padda-Nya, maka bergembiralah, karena manusia yang menjalaninya akan tenang, baik dunia dan akhirat, dan ini suatu kegembiraan, suatu kebahagiaan. Lirik terakhir ini, menggambarkan rasa syukur kita sebagai manusia yang dengan tekun menjalani ajaran para wali Allah. Semua perbuatan, baik-buruk pasti akan mendapatkan balasannya yang setimpal sesuai dengan apa yang diperbuatnya.
Itulah tafsir makna tembang yang diciptakan oleh salah seorang walisongo, sebagai dakwah penyebaran agama islam di pulau jawa, Indonesia.
~banyumili~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar