Rabu, 26 Januari 2011

KURSI

kalau kursi yang kau duduki itu kau anggap sebagai kekuasaan dan bukannya sebagai tugas pelayanan kerumahtanggaan bersama, maka tunggu saatnya kau akan dikalahkan oleh si kursi. Kalau kursi itu kau anggap sebagai keunggulan dan bukannya sebagai tanggung jawab yang dititipkan, maka kepribadianmu akan digerogoti oleh si kursi sampai keropos. Kalau kursi itu kau perlakukan sebagai kekuatan dan bukannya amanat yang dibebankan, maka kelak kau akan ambruk dicampakkan oleh si kursi.Kursi jangan dibangga-banggakan. Karena ia lebih merupakan ancaman terhadap kelemahanmu. kursi melahirkan getaran yang bisa merusak syaraf matamu, sehingga semakin lama kamu semakin tidak fokus dalam melihat setiap permasalahan yang terjadi. Kursi diam-diam melontarkan frekuensi yang bisa meratakkan gendang telingamu, sehingga kau semakin sukar untuk mendengarkan. Kursi bisa membuatmu menjadi plin-plan dan pelupa.Nasihat itu ada sejak jaman baheula. Tepatnya jaman di mana Nabi Sulaiman yang terkenal dengan istananya yang megah itu hidup dalam gelimang kekuasaan. Suatu hari Sang Raja dari kerajaan Balqis ini kedatangan seorang Sufi, yang membawa segenggam nasihat di tangannya. Sebuah nasihat atau tepatnya teguran yang cukup gamblang, sebuah teguran yang sangat tepat ditujukan buat seorang penguasa, dan itu dilakukan secara lansung tanpa perantara, tanpa tedeng aling-aling.Pertanyaannya, masihkah peristiwa itu terjadi kini? Masihkah ada orang yang sudi menyambangi penguasa untuk menegur atau sekedar mengingatkan mereka? Mestinya harus. Apalagi ditengah potret muram kekuasaan saat ini. Tentu saja, agar mereka yang di atas sana tetap eling, tetap bertindak dengan hatinya manusia bukan hatinya binatang, tetap berpijak di bumi bukan mengawang di angkasa atau mendongeng di dunia antah berantah. Agar kekuasaan yang ada di genggamannya itu nggak jadi bomerang, setidaknya buat diri mereka sendiri.Mungkin nggak ada lagi orang yang melakukan hal itu. Sebab, pihak yang mestinya mengontrol kekuasaan pun, ikut juga menjajari langkah sepak terjang penguasa, lengkap dengan kebusukan di dalamnya. Bahkan kadang lebih membabi buta, atau mungkin para penegur telah sangat letih, bosan dan merasa muak, sebab yang ditegur terlalu ndablek. Barangkali. -end-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar